Oleh: kakangyogaswara | 7 April 2009

Komunikasi Di sekolah Oleh: A. Yogaswara

kang-yoga

KOMUNIKASI DI SEKOLAH

PENDAHULUAN
Kemampuan berkomunikasi adalah alat yang sangat utama untuk menjadi seorang pengelola yang efektif. Namun begitu, sebelum menyimpulkan bahwa komunikasi menyediakan segala jawaban atas masalah-masalah mengenai pengelolaan pendidikan, ada empat hambatan yang harus dipertimbangkan.
1. Komunikasi tidak mudah dipisahkan dari proses administrasi lainnya seperti pengambilan keputusan, memberi motivasi, dan memimpin.
2. Tidak semua permasalahan yang ada di sekolah melibatkan kegagalan komunikasi. Masalah-masalah tersebut biasanya dikarenakan adanya interaksi yang buruk yang bisa mengakibatkan kemunduran komponen dasar lainnya yang ada dalam keberlangsungan sekolah.
3. Komunikasi bisa muncul dan hilang seketika bersamaan dengan terselesaikannya masalah (Katz dan Zahn, 1978). Komunikasi dapat mengemuka dalam konflik nilai yang terjadi antara para guru, murid, dan pengelola yang biasanya berlangsung tanpa disadari, dan juga dapat mengaburkan permasalahan yang sudah ada dengan mencuatkan isu-isu lain melalui retorika-retorika kosong.
4. Komunikasi adalah suatu proses yang memicu tindakan, tetapi hal ini sama sekali tidak dapat disamakan sebagai inti dari sebuah proses administrasi yang baik. Komunikasi tidak dapat menggantikan kesalahan-kesalahan ide dan program-program pendidikan yang salah jalur.
Walaupun hal-hal diatas memiliki keterbatasan, komunikasi ternyata dapat melayani beberapa fungsi yang meresap dan integratif dari sekolah. Untuk meng-klaim komunikasi sebagai inti permasalahan yang utama maupun sebagai pemecah masalah yang ada adalah terlalu menyederhanakan dan terlalu membatasi, baik analisa-analisa maupun solusi dari masalah-masalah pendidikan.
Dalam bab ini, kita akan berdiskusi tentang beragam pendekatan konseptual yang ada dalam usaha untuk menjaga fungsi-fungsi penting dan pedoman-pedoman peringatan yang ditinjau dari sudut pandang yang semestinya.

PENDEKATAN-PENDEKATAN TEORITIS KOMUNIKASI
Kathleen J. Krone, Fredric M. Jablin dan Linda L. Putnam (1987) berpendapat bahwa secara virtual, seluruh perspektif yang berhubungan dengan proses komunikasi mengenali dan menggunakan konsep yang sama. Walaupun setiap istilah memiliki beragam perspektif teori yang berbeda, kami sependapat dengan definisi yang disimpulkan oleh Krone dan kawan-kawan.
• Sebuah pesan biasanya merupakan bentuk verbal atau non-verbal atau simbol yang digunakan setiap pelaku komunikasi. Hal ini adalah sebuah ide yang diharapkan seseorang untuk dapat di-komunikasikan.
• Saluran adalah suatu kendaraan, perantara atau sebuah bentuk dimana sebuah pesan berjalan. Bentuk tersebut dapat berupa gelombang lemah atau isyarat-isyarat non-verbal menjadi sebuah gelombang suara saat berbicara tatap muka, sampai ke bentuk sinyal elektronik dalam telepon atau email.
• Pengirim adalah seseorang atau sumber umum (misalnya kantor pimpinan) yang mengirim sebuah pesan; penerima menandakan tujuan dari pesan tersebut atau seseorang yang menguraikannya.
• Transmisi adalah pengiriman dan penerimaan aktual dari pesan-pesan tersebut melalui saluran atau media yang dirancang untuk itu.
• Proses Penyandian dan Penguraian sandi melibatkan struktur dan proses-proses kognitif untuk menciptakan, mengalihkan, dan menerima pesan. Penyandian adalah proses merubah pesan yang dimaksud ke dalam bentuk simbolis oleh si pengirim pesan. Penguraian sandi adalah proses penerjemahan pesan yang dilakukan oleh si penerima pesan tersebut. Melalui dua proses ini, seseorang menyusun sebuah pengertian dengan meng-interpretasikan atau membuat sebuah pesan tersebut menjadi bermakna sesuatu.
• Umpan balik adalah sebuah pesan yang merupakan respon dari pesan yang diterima, atau sebagaimana dijelaskan dalam Bab 1, umpan balik merupakan sebuah informasi yang memerlukan koreksi dengan menggunakan fasilitas-fasilitas umpan balik dari interpretasi pesan dimaksud.
• Efek komunikasi adalah merupakan keluaran atau hasil umum dari proses pertukaran pesan—sebagai contoh, pengetahuan baru, sikap yang berbeda, budaya dan rasa puas.
Oleh karena itu, definisi yang lebih lengkap adalah bahwa komunikasi diantara manusia adalah suatu proses yang berlangsung ketika seseorang mengeluarkan pesan menggunakan simbol-simbol, tanda-tanda, dan isyarat-isyarat kontekstual dalam usahanya meng-ekspresikan maksudnya dengan mengirimkan informasi secara tepat sehingga pengertian yang sama dapat dibangun oleh orang lain yang menerima pesan tersebut (DeFleur, Kearney dan Plax, 1993). Definisi ini menggabungkan konsep-konsep yang terurai diatas dan menghasilkan sebuah model umum sebagaimana terlihat dalam gambar 10.1.

gambar 10.1.
Komunikasi Satu Arah
Sebagaimana terlihat dalam gambar 10.2, komunikasi satu arah muncul ketika seseorang memberitahukan sesuatu kepada orang lain. Jenis komunikasi ini bersifat unilateral; dimana hal ini dilakukan oleh seorang pembicara dengan mengindahkan adanya seorang pendengar (Schmuck dan Runkel, 1985).

Kelebihan dari jenis komunikasi satu arah ini ada dua macam (Clampitt,1991).
Pertama, jenis ini menekankan pada kemampuan dari si penyampai pesan dan mendorong para administrator serta para guru untuk berpikir dengan ide yang mereka miliki lalu secara akurat mengejawantahkannya dalam kalimat dan memberikan instruksi, penjelasan serta deskripsi yang spesifik.
Kedua, strategi satu arah ini ber-implikasi pada adanya kaitan yang sangat erat antara kebiasaan berkomunikasi dengan kebiasaan bertindak
Dengan kata lain, hal ini membawa suatu dorongan yang kuat dalam efisiensi dan pencapaian tujuan dimaksud.
Clampitt meyakini adanya dua macam kesalahan asumsi yang bisa menjelaskan tentang keberlangsungan dipercayanya komunikasi satu arah.
Pertama, penerima pesan dianggap sebagai pemroses informasi yang pasif.
Kedua, kata-kata seringkali dianggap sebagai pembawa arti. Sebenarnya kata-kata tidak begitu berfungsi sebagai pembawa arti dibandingkan sebagai perangsang tercapainya arti tersebut Untuk itulah, kebutuhan akan adanya pengertian didalam sekolah mengakibatkan diperlukannya bentuk-bentuk lain dari komunikasi untuk mencapai maksud, perubahan serta tujuan sosialnya.

Komunikasi Dua Arah
Yang dimaksud dengan komunikasi dua arah adalah sebuah proses yang interaktif dan ada timbal balik; semua pihak yang terlibat dalam proses ini mengirimkan dan menerima pesan-pesan.

Gambar 10.3
Model Komunikasi Dua Arah
Komunikasi dua arah adalah suatu proses saling timbal balik yang interaktif dan langsung diarahkan menuju sebuah penemuan dan pemahaman baru lewat berbicara dan mendengarkan. Komunikasi jenis ini menawarkan sebuah janji untuk menciptakan skema yang sama (kesepahaman yang saling menguntungkan dan berbagi pengertian) dan me-modifikasi skema yang mirip.
Prinsip-prinsip Komunikasi Dua Arah Burbules (1993) memberi rincian terhadap ide-nya tentang dialog dengan menempatkan tiga standar normatif.
1. Asas Partisipasi mengemukakan bahwa pertautan dalam suatu hubungan dialog harus terjadi secara sukarela dan terbuka untuk keterlibatan aktif dari semua pelakunya dalam aktivitas-aktivitas seperti bertanya, mencoba ide baru serta mendengarkan sudut pandang yang berbeda.
2. Asas Komitmen berpegang bahwa pertautan yang ada harus memperbolehkan alur percakapan tersebut tidak keluar dan meluas melintasi permasalahan yang dibahas, bahkan walaupun permasalahan itu sangat sukar dan terbagi-bagi.
3. Asas Timbal balik mengemukakan bahwa pertautan yang terjadi dalam pertukaran dua arah harus berjalan dengan dasar semangat menghargai satu sama lain dan memperhatikan permasalahannya serta tidak boleh dengan begitu saja mengindahkan adanya peranan dari hak-hak istimewa seseorang atau keahliannya.

Jenis-jenis Komunikasi Dua Arah Burbules (1993, 2000) menggambarkan pula empat jenis atau pola dari interaksi dua arah—percakapan, pemeriksaan, debat dan instruksi.

Saluran-saluran Komunikasi : Metode Pertukaran Simbol Dalam usahanya untuk ber-komunikasi, manusia menggunakan dua sistem utama—verbal dan non-verbal (Dahnke dan Clatterbuck, 1990).
Simbol-simbol verbal meliputi:
• Kemampuan berbicara Manusia—secara langsung, pembicaraan tatap muka atau pertukaran elektronik lewat telepon, radio atau televisi.
• Media Tertulis—memo, surat-surat, surat elektronik dan surat kabar.
Simbol-simbol non-verbal, meliputi:
• Bahasa tubuh atau gerak isyarat—ekspresi wajah, postur dan gerakan tangan.
• Benda-benda fisik atau benda berharga dengan nilai-nilai simbolis—peralatan kantor, pakaian dan perhiasan.
• Ruang—pemilikan wilayah dan ruang pribadi.
• Sentuhan—memeluk.
• Waktu.
• Simbol-simbol Non-verbal lainnya—intonasi, aksen, pola titinada, intensitas suara dan kecepatan berbicara.
Ada empat kriteria yang menetapkan kesempurnaan suatu media :
• kecepatan umpan balik,
• banyaknya ragam saluran komunikasi,
• personalitas narasumber dan
• kesempurnaan bahasa.
Dengan menggunakan empat kriteria ini, Daft beserta para koleganya menempatkan media komunikasi dan kesempurnaan pada suatu garis pararel yang berkesinambungan sebagaimana terlihat pada gambar 10.4.

Gambar 10.4
Rangkaian Alur Media Komunikasi dan Kesempurnaannya

Media perantara tatap muka adalah suatu bentuk yang paling sempurna karena media tersebut menyediakan umpan balik yan Hipotesa dasar dari teori ini adalah bahwa ketika isi kandungan komunikasi itu menjadi semakin kabur dan tidak pasti, media yang lebih sempurna secara otomatis akan dipilih untuk meningkatkan kinerja komunikasi tersebut. g sangat cepat melalui isyarat verbal dan visual.

Kesesuaian Antara Pesan-pesan Verbal dan Non-verbal Pesan-pesan verbal dan non-verbal harus konsisten dalam tujuannya mencapai pemahaman yang efektif. Ilustrasi untuk penggambaran umum hal ini biasanya muncul ketika seorang pejabat baru bertemu dengan staf nya.
Teknologi Baru dan Berkembang
Setiap media-media baru itu menetapkan persyaratannya sendiri mengenai bagaimana suatu pesan dibuat, mengatur seberapa cepat dan tepat sebuah pesan dikirimkan serta mempengaruhi cara penerima pesan membangun pemahamannya (DeFleur, Kearney dan Plax, 1993).Teknologi baru tersebut telah merubah penekanan dari pembelajaran pasif menuju pembelajaran aktif dan bahkan dapat menggantikan bentuk fisik sebuah sekolah melalui metode pembelajaran jarak jauh

Narasumber dalam Sebuah Proses Komunikasi: Pengirim dan Penerima Narasumber sebuah pesan tidaklah harus seorang individu. Melainkan dapat saja berupa sebuah organisasi, para pengawas, rekan kerja atau bahkan pekerjaan itu sendiri (Northcraft dan Earley, 1989; Bantz, 1993). Dengan mempertimbangkan narasumber tersebut, kredibilitas beserta kapasitas kognitif merupakan faktor-faktor yang penting.
Berkomunikasi dalam Suatu Konteks
Komunikasi yang terjadi antara orang-orang tergantung juga pada kombinasi dari faktor-faktor kontekstual, budaya atau lingkungan. Proses ini tertutupi oleh faktor-faktor kontekstual yang biasanya disebut kegaduhan atau rintangan. Kegaduhan adalah semua gangguan yang mencampuri proses komunikasi. Kegaduhan ini bisa sangat intens sehingga menjadi lebih penting dibandingkan dengan isi dari pesan itu sendiri (Reilly dan DiAngelo, 1990).
Oleh karena itu, segala macam hambatan kontekstual—misalnya, secara fisik, sosial dan personal—dapat menimbulkan perbedaan bahasa yang mendesak komunikasi didalam sekolah menjadi lebih jauh lagi. Menilik semakin berkembangnya keberagaman dan perubahan lain dalam konteks sekolah (seperti dalam kesejahteraan ekonomi, ke-sukuan, gender dalam kaitannya dengan posisi administratif dan para siswa), maka tantangan untuk dapat berkomunikasi secara akurat dan jernih dengan sendirinya bertambah. Sebagaimana terlihat dalam gambar 10.1, menciptakan kesepemahaman bersama lewat proses komunikasi tergantung pada para individu yang terlibat, isi dari pesan, metode yang dipergunakan serta konteksnya. Secara ringkas dapat dikatakan, bahwa pertalian hubungan dapat diperlihatkan dengan formula sebagai berikut:
Pengertian = Informasi + Pelaku Komunikasi + Media + Konteks
Sebagai kesimpulan umum, kurangnya komunikasi dua arah, penggunaan media dan pesan yang saling bertentangan dan adanya hambatan situasional menimbulkan permasalahan yang paling serius dalam mencapai kesepahaman dalam organisasi pendidikan.

SUDUT PANDANG ORGANISASIONAL KOMUNIKASI
Organisasi adalah sebuah sistem pemrosesan informasi. Informasi mengalir melalui organisasi dan mempengaruhi seluruh struktur dan proses yang ada secara virtual. Lebih dari itu, organisasi adalah pemrosesan dan peningkatan volume data dan perangkat media yang telah dipersiapkan menjadi diskusi-diskusi tatap muka serta partisipasi kelompok (Daft, Bettenhausen dan Tyler, 1993).

Komunikasi Organisasional dan Jaringan
Definisi umum yang terdahulu dapat diterapkan untuk mendefinisikan komunikasi organisasional sebagai sebuah proses pengiriman pesan melalui jaringan formal atau pun non-formal yang menghasilkan terbangunnya kesepahaman yang juga mempengaruhi para individu maupun kelompok (DeFleur, Kearney dan Plax, 1993). Dengan kata lain, komunikasi organisasional adalah suatu proses kolektif dan interaktif yang menciptakan dan menterjemahkan pesan-pesan. Aktivitas-aktivitas yang terkoordinasi dengan pertalian hubungan diantara para pelakunya baik didalam maupun diluar organisasi menghasilkan sebuah jaringan kesepahaman (Stohl, 1995).
Jaringan adalah suatu pola formal maupun informal atau saluran komunikasi yang telah memiliki peraturan sendiri. Saluran formal adalah sebuah metode yang diberlakukan oleh suatu organisasi dan terkait dengan tujuan organisasi tersebut dalam bentuk peraturan dan inovasi.

Gambar 10.5
Contoh peranan Bintang, Terasing, Jembatan dan Penghubung
dalam Jaringan Komunikasi

Peranan Bintang adalah sebuah peranan dimana sejumlah besar orang berkomunikasi dengan seorang individu. Bintang tersebut adalah pusat dari jaringan itu. Dengan memiliki peranan sentral, orang yang mendapat peranan bintang itu memiliki kekuatan yang besar karena ia mempunyai akses untuk mengontrol narasumber dalam kelompok tersebut (MCElroy dan Shrader, 1986; Yamagishi, Gillmore dan Cook, 1988). Oleh karena itu, sebuah bintang dapat disebut sebagai pemimpin dalam jaringan tersebut.
Sebaliknya, peranan Terasing adalah suatu peranan ketika seseorang terlibat dalam komunikasi dengan yang lainnya sekali-sekali saja (lihat gambar 10.5).

MANFAAT KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI SEKOLAH
Komunikasi yang terjalin dalam suatu organisasi seperti sekolah mempunyai beberapa manfaat utama—misalnya, produksi dan regulasi, inovasi dan sosialisasi individu serta pemeliharaannya (Myers dan Myers, 1982). Kegunaan produksi dan regulasi mencakup aktivitas-aktivitas yang ditujukan untuk melaksanakan pekerjaan utama dari organisasi tersebut, seperti belajar dan mengajar di sekolah. Hal ini juga meliputi penentuan tujuan dan standar-standarnya, menyampaikan fakta-fakta dan informasi, membuat keputusan, memimpin dan mempengaruhi orang lainnya serta memperkirakan jumlah penghasilan.
Kegunaan inovatif termasuk pesan-pesan tentang merangkum ide-ide baru dan merubah program-program, struktur dan prosedur-prosedur didalam sekolah. Pada akhirnya, sosialisasi dan pemeliharaan manfaat-manfaat komunikasi mempengaruhi kepercayaan diri para pelakunya, hubungan interpersonal serta motivasi untuk ber-integrasi dengan tujuan pribadi mereka bersamaan dengan tujuan-tujuan dari sekolah tersebut.
• Saluran komunikasi harus dikenali.
• Saluran tersebut harus menghubungkan setiap anggota organisasi.
• Garis komunikasi harus dibuat sependek-pendeknya dan setegas-tegasnya.
• Sebuah jaringan komunikasi yang lengkap biasanya digunakan.
• Setiap komunikasi yang terjalin dikenali berasal dari orang yang tepat dengan posisi yang tepat pula serta memiliki kewenangan untuk mngeluarkan pesan tersebut.
Gambar 10.6 meng-ilustrasikan sebuah jaringan komunikasi formal di wilayah sekolah dengan mempergunakan pernyataan deskripsi Barnard. Perhatikan bahwa susunan tersebut menggambarkan saluran-saluran komunikasi formal dan bahwa setiap anggotanya melapor kepada seseorang. Direktur melapor kepada wakil penilik bidang umum, yang bersama wakil penilik bidang keuangan, melapor kepada penilik. Garis komunikasi yang terjadi dari penilik kepada para guru berjalan melewati lima tingkatan hirarkis. Proses ini bisa dibilang singkat dan langsung untuk sebuah wilaya hsekolah yang besar. Tambahkan nama-nama yang spesifik dan aturan-aturan birokratis beserta regulasiyang menjelaskan tugas-tugasnya akan membuat sistem ini sama persis dengan apa yang disarankan oleh Barnard.

JARINGAN-JARINGAN YANG SALING MELENGKAPI: KOMUNIKASI FORMAL DAN NON-FORMAL
Dalam komunikasi formal yang mengarah kebawah, informasi-informasi berjalan melalui sebuah rantai komando—dimana mereka harus melewati struktur hirarkis dari statusnya. Pesan-pesan ini biasanya menegaskan kembali akan rantai komando itu dan menguatkan kendali (Harris, 1993).

Gambar 10.6
Saluran Komunikasi Formal untuk Implementasi Program di Wilayah Sekolah

Lima macam komunikasi dari yang paling tinggi sampai ke paling rendah, meliputi (Katz dan Kahn, 1978) :
1. Instruksi mengenai tugas-tugas yang spesifik
2. Penjelasan tentang mengapa tugas tersebut harus dilaksanakan dan bagaimana hal tersebut terkait dengan tugas-tugas lainnya.
3. Informasi mengenai prosedur-prosedur organisasi dan pelaksanaannya.
4. Umpan balik mengenai tingkat kinerja perseorangan.
5. Informasi menyangkut tujuan-tujuan organisasi.
Komunikasi yang berasal dari tingkat terendah dari hirarki menuju ke tingkat teratas adalah komunikasi yang mengarah keatas. Komunikasi yang mengarah keatas ini menyediakan emapat macam pesan (Katz dan Kahn, 1978; DeFleur, Kearney dan Plax, 1993) :
1. Pesan-pesan operasional rutin.
2. Laporan-laporan permasalahan.
3. Saran-saran untuk peningkatan.
4. Informasi mengenai apa yang dirasakan para bawahan tentang satu sama lain dan tentang pekerjaannya.\
LINGKUNGAN EKSTERNAL DAN KOMUNIKASI ORGANISASIONAL
Sekolah-sekolah dapat terus-menerus mengumpulkan, menciptakan dan mempergunakan informasi yang berasal dari lingkungan luar agar menjadi organisasi yang mengetahui. Chun Wei Choo (1998) menegaskan bahwa organisasi yang mengetahui adalah organisasi yang efektif sebab mereka secara terus-menerus berkembang seiring dengan lingkungan mereka yang terus berubah, memperbaharui sumber-sumber pengetahuan mereka dan melaksanakan pemrosesan yang penuh kewaspadaan dalam membuat keputusan-keputusan

MENINGKATKAN PROSES KOMUNIKASI
Komunikasi tidak mempunyai lawan apapun. Tidak ada jalan bagi orang-orang untuk tidak mempunyai sikap dan semua sikap mempunyai nilai komunikasi (Myers dan Myers, 1982).. Ketepatan dalam mengirimkan pesan, walau bagaimana pun, secara signifikan berkaitan dengan kinerja dari pimpinan dan organisasi (Penley, Alexander, Jernigan dan Heuwood, 1991). Dengan menggunakan pengetahuan yang berasal dari teori-teori komunikasi dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas komunikasi individual dan organisasi. Tuntunan umum yang disarankan oleh Sayles dan Strauss (1966) masih dapat di-aplikasikan, yaitu :
• Tentukan tujuan dari komunikasi yang direncanakan.
• Kenali penerima yang dimaksud beserta karakteristik yang dapat memudahkan atau menyulitkan dalam membangun kesepahaman bersama.
• Uraikan pesan agar sesuai dengan hubungan yang ada antara si pengirim dan si penerima.
• Tentukan jalan untuk menciptakan kepentingan bersama dengan si penerima dan rancang media yang akan digunakan untuk mengirim pesan tersebut.
• Nilai hasilnya dengan umpan balik.
Meningkatkan komunikasi di sekolah memerlukan sebuah program pengembangan organisasional yang terencana. Langkah-langkah yang disarankan dalam pendekatan untuk meningkatkan komunikasi di sekolah ini antara lain adalah:
• Perkirakan rancangan organisasional dari sistem komunikasi dengan kriteria yang disarankan sebelumnya dalam bab ini oleh Barnard.
• Kembangkan mekanisme yang ada untuk mem-fasilitasi prosesnya—sebagai contoh, kedekatan para personel, tempat yang nyaman untuk melakukan interaksi formal dan informal, penghubung mekanis seperti telepon dan komputer serta sistem komite untuk menunaikan tugas-tugas dan membuat keputusan-keputusan.
• Buatlah sistem penyimpanan dan pengambilan informasi.
• Pilihlah personil-personil dengan kemampuan ber-komunikasi yang cakap.
• Kembangkan program pelatihan untuk meningkatkan kemampuan ber-komunikasi.

Walaupun terdapat banyak rintangan untuk mencapai komunikasi yang efektif, garis tuntunan umum ini dapat digabungkan dengan sejumlah teknik untuk me-minimalisir ketidak-tepatan, menambah kejernihan dan meningkatkan kesempurnaan dalam proses tersebut. Ada tiga set keahlian yang muncul : mengirim, mendengar dan umpan balik.
Sebagai kunci menuju komunikasi yang efektif, keahlian mengirim dari seorang pendidik dapat ditambah melalui lima metode berikut ini:
1) bahasa yang langsung dan sesuai harus digunakan.
2) informasi yang jelas dan lengkap harus dipersiapkan untuk si pendengar.
3) kegaduhan yang berasal dari lingkungan fisik dan psikologis harus dapat di-minimalisir.
4), harus digunakannya saluran-saluran ganda dan sesuai. Dengan kecakapan dalam menyelaraskan kekayaan media dengan kebutuhan komunikasi dan situasional bisa menjadi faktor penentu dalam kinerja seorang pengelola (Alexander, Penley dan Jernigan, 1991).
5) komunikasi tatap muka dan pleonasme (gaya bahasa) harus digunakan ketika meng-komunikasikan pesan yang rumit atau samar.
Allen Ivey dan Mary Ivey (1999) menyarankan sejumlah elemen kritis dalam kemampuan mendengarkan yang efektif—mengikuti, bertanya, memberi dorongan, menguraikan, merefleksikan perasaan dan meringkaskan.
Oleh karena komunikasi memainkan peranan-peranan utama seperti yang terjadi di sekolah-sekolah, permasalahan kuncinya bukanlah mengenai para pengelola, guru-guru dan para siswa yang bersentuhan dengan komunikasi melainkan tentang bagaiman mereka melakukannya dengan efektif.

KESIMPULAN

Pertama, untuk menjadi seorang pelaku komunikasi yang baik adalah dengan mengetahui beragam jenis dari komunikasi itu sendiri, karakteristik umum-nya, bagaimana cara memilih jenis yang tepat dan bagaimana cara melaksanakannya secara cakap.
Ke-dua, orang-orang saling bertukar simbol-simbol dengan orang lainnya ketika mereka ber-interaksi dalam sebuah situasi sosial; orang lain yang menjadi lawan mereka dalam situasi tersebut membangun pengertian-pengertia tentang simbol-simbol dimaksud. Ini berarti bahwa transmisi langsung dari pengertian yang dituju tidaklah selalu mengarah lansung kedepan.
\Ke-tiga, pesan-pesan itu berjalan melalui saluran-saluran formal dan informal dengan mempergunakan berbagai variasi media verbal dan non-verbal. Walaupun jaringan-jaringan yang formal itu biasanya lebih besar dan lebih berkembang daripada jaringan informal, mereka sangat terkait erat, dapat saling melengkapi dan sangat kritis bagi organisasi.
Ke-empat, untuk memastikan bahwa kesepahaman bersama berada di tingkat yang tinggi, umpan balik adalah sesuatu yang sangat esensial. Walaupun kesempurnaan adalah sesuatu yang tidak mungkin namun ada beberapa teknik yang tersedia guna menambah dan meningkatkan proses komunikasi tersebut, baik dalam tingkat individual maupun tingkat organisasi.
Chester Barnard (1938) mengajukan sebuah rekaan awal yang masih terasa penting mengenai komunikasi yang bersifat individual maupun organisasional. Hal ini merupakan sumber yang sangat bagus untuk mencari keterangan tentang komunikasi dan konsep-konsep lainnya. Ada dua sumber umum yang sangat baik sebagai literatur-literatur permasalahan komunikasi, yaitu buku-buku yang dikarang oleh DeFleur, Kearney dan Plax (1993) dan Harris (1993). Mereka menyediakan sebuah pembahasan yang dalam dan komprehensif tentang berbagai teori dan aplikasi di bidang komunikasi. Buku yang dikarang oleh Clampitt (1991) sangat bermanfaat karena beliau mempersembahkan model-model komunikasi dalam konteks pengelolaan, mitos-mitos dan taktik-taktik. Untuk mendapat ulasan yang baik mengenai literatur dan usul-usul guna penelitian yang lebih lanjut mengenai gender dan komunikasi, kami sarankan artikel-artikel yang ditulis oleh Baker (1991).

DAFTAR PUSTAKA

THE BOOK
EDUCATIONAL ADMINISTRATION
Theory, Research and Practice
By. By Wayne K. Hoy & Cecil G. Miskel

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN ………………………………………………………………………….. 1

PENDEKATAN-PENDEKATAN TEORITIS ………………………………………………….. 1
Komunikasi Satu Arah ……………………………………………………………………………………… 2
Komunikasi Dua Arah ……………………………………………………………………………………… 2

SUDUT PANDANG ORGANISASIONAL KOMUNIKASI ……………………………… 6
Komunikasi Organisasional dan jaringan ………………………………………………………… 7

MAMFAAT KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI SEKOLAH……………………………………………………………………………………………………… 8

JARINGAN-JARINGAN YANG SALING MELENGKAPI: KOMUNIKASI FORMAL DAN NON-FORMAL ……………………………………………………………………………………. 8

MENINGKATKAN PROSES KOMUNIKASI ………………………………………………. 10

KESIMPULAN ……………………………………………………………………………………………. 12


Responses

  1. bagus bgt!!sangat membantu,,tapi apakah saya boleh minta tolong apakah ada tulisan mengenai budaya sekolah tetapi berdasarkan kajian dari buku wayne k. hoy dan miskel ini?terima kasih, mohon bantuannya!!


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: