Oleh: kakangyogaswara | 22 Desember 2009

Membangun Persaingan Keuntungan Melalui Tingkat Strategi Fungsional Dalam Pendidikan

[Enter Post Title Here]

MEMBANGUN PERSAINGAN KEUNTUNGAN
MELALUI TINGKAT STRATEGI FUNGSIONAL DALAM PENDIDIKAN

DOSEN:
PROF. DR. H. TB. ABIN SYAMSUDDIN MAKMUN, MA

DI SUSUN OLEH:
A.YOGASWARA

SEKOLAH PASCASARJANA
PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 
KATA PENGANTAR

Puji serta syukur saya panjatkan atas berkah dan rahmat-Nya karena saya telah dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang diberi judul :
Membangun Persaingan Keuntungan
Melalui Tingkat Strategi Fungsional Dalam Pendidikan

Dan tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada dosen,
PROF. DR. H. TB. ABIN SYAMSUDDIN MAKMUN, MA. atas bimbingan dan arahannya serta saya mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang membantu baik materi, saran, dan masukan sehingga resume ini dapat diselesaikan pada waktunya. Maklah ini ditujukan untuk umum, khususnya untuk mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia. Tugas ini jauh dari kata sempurna jadi saya harapkan saran dan kritik yang membangun,guna perbaikan dimasa yang akan datang, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang Maha Esa,dan kekurangan datangnya dari diri sendiri.

Bandung, Desember 2009

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan UU Sisdiknas amat mendasar dalam memberikan landasan filosofis serta berbagai prinsip dasar dalam pembangunan pendidikan, seperti filosofi pendidikan nasional berdasarkan filsafat Pancasila, paradigma pendidikan dan pemberdayaan manusia seutuhnya, paradigma pembelajaran sepanjang hayat berpusat pada peserta didik, paradigma pendidikan untuk semua yang inklusif, dan Paradigma Pendidikan untuk Perkembangan, Pengembangan, dan/atau Pembangunan Berkelanjutan (PuP3B atau Education for Sustainable Development).
Secara mendasar landasan filsafat Pancasila menyiratkan bahwa sistem pendidikan nasional menempatkan peserta didik sebagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhan dengan segala fitrahnya dengan tugas memimpin pembangunan kehidupan yang berharkat dan bermartabat, sebagai makhluk yang mampu menjadi manusia yang bermoral, berbudi luhur, dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, pendidikan merupakan upaya memberdayakan peserta didik untuk berkembang menjadi manusia seutuhnya, yaitu yang menjunjung tinggi dan memegang dengan teguh norma-norma
Menteri Pendidikan Nasional sebagai penanggung jawab sistem pendidikan nasional bertekad mewujudkan cita-cita luhur tersebut dengan mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010–2014 dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005–2025.
Berdasarkan RPJPN tersebut, Departemen Pendidikan Nasional menyusun Rencana Pembangunan Pendidikan Nasional Jangka Panjang (RPPNJP) 2005–2025, seperti yang tertuang di dalam Permendiknas Nomor 32 Tahun 2005,

tentang Renstra Depdiknas Tahun 2005–2009. Rencana tersebut dijabarkan ke dalam empat tema pembangunan pendidikan, yaitu tema pembangunan I (2005–2009) terfokus pada peningkatan kapasitas dan modernisasi; tema pembangunan II (2010–2015) terfokus pada penguatan pelayanan; tema pembangunan III (2015–2020) terfokus pada daya saing regional dan tema pembangunan IV (2020–2025) terfokus pada daya saing internasional. Tema pembangunan dan penetapan tahapan tersebut selanjutnya perlu disesuaikan dengan RPJPN 2005–2025 dan RPJMN 2010–2014 serta perkembangan kondisi yang akan datang.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan paparan di atas penulis mencoba merumuskan dua tema yang akan dipaparkan pada tulisan ini yang berkaitan dengan tema sentral Membangun Persaingan Keuntungan Melalui Tingkat Strategi Fungsional Dalam Pendidikan yaitu:
1. Apakah Pendididikan yang Bermutu itu Mahal?
2. Bagaimanakah Solusinya Pendidikan yang Bermutu dan Dapat Dinikmati Semua?


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 . Apakah itu strategi tingkat-bisnis?
Strategi tingkat bisnis mengacu pada perencanaan tindakan yang diadopsi oleh manajer strategis dalam menggunakan sumber daya perusahaan dan kompetensi khusus untuk mendapatkan sebuah keuntungan kompetitif atas rival-rivalnya dalam sebuah pasar atau industri. Dalam bab 2, kita membahas pandangan Abell bahwa proses dari definisi bisnis melingkupi keputusan tentang (1) kebutuhan konsumen, atau apa yang harus dipenuhi; (2) kelompok konsumen, atau siapa yang harus dipenuhi; dan (3) kompetensi khusus, atau bagaimana kebutuhan konsumen dapat dipenuhi. Ketiga keputusan ini merupakan dasar untuk memilih strategi tingkat bisnis karena ketiganya menentukan bagaimana sebuah perusahaan berkompetisi dalam sebuah bisnis atau industri. Akibatnya, kita perlu melihat pada cara dimana sebuah perusahaan membuat ketiga keputusan ini untuk mendapatkan sebuah keuntungan kompetitif atas rival-rivalnya.

Kebutuhan konsumen dan diferensiasi produk
Kebutuhan konsumen adalah hasrat, keinginan atau idaman yang dapat dipenuhi dengan sarana karakteristik dari sebuah produk atau jasa. Keinginan seseorang atas makanan yang manis dapat terpenuhi dengan memakan sebuah es krim, sekotak coklat atau kue manis. Diferensiasi produk adalah proses dalam menciptakan sebuah keuntungan kompetitif dengan mendesain produk (barang atau jasa) untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Semua perusahaan harus membedakan produk mereka dalam beberapa hal untuk menarik konsumen dan memenuhi tingkat kebutuhan minimal mereka. Beberapa perusahaan, bagaimanapun juga, membedakan produk mereka dengan produk yang lain, dan perbedaan ini dapat memberikan mereka sebuah sisi yang kompetitif.

2.2 Kelompok konsumen dan segmentasi pasar
Segmentasi pasar adalah cara dimana sebuah perusahaan memutuskan untuk mengelompokan konsumen, berdasarkan perbedaan dalam kebutuhan mereka, untuk mendapatkan keuntungan kompetitif. Toyota, contohnya, mengelompokan konsumennya berdasarkan pada jumlah uang yang mereka miliki sehingga mereka mampu untuk membeli sebuah mobil; untuk masing-masing kelompok konsumen, Toyota memproduksi tipe mobil yang berbeda, yang mencakup dari mobil berharga murah seperti Toyota Echo sampai mobil berharga mahal seperti Lexus SC-430.

Kompetensi-kompetensi khusus
Masalah ketiga dalam strategi tingkat-bisnis adalah memutuskan kompetensi khusus yang mana yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen dan kelompok konsumen. Seperti yang telah dibahas dalam bab 5, terdapat empat cara dimana sebuah perusahaan dapat mendapatkan sebuah keuntungan kompetitif: efesiensi superior, kualitas, inovasi dan keresponsifan terhadap konsumen.

Memilih sebuah strategi-bisnis umum
Perusahaan menerapkan sebuah strategi tingkat-bisnis untuk mendapatkan sebuah keuntungan kompetitif yang memungkinkannya untuk melebihi rival-rivalnya dan mendapatkan keuntungan diatas rata-rata. Perusahan dapat memilih tiga pendekatan kompetitif dasar – biaya kepemimpinan, diferensiasi dan fokus – walaupun kita akan membahas bahwasanya keduanya dapat dikombinasikan dalam berbagai cara. Strategi-strategi ini adalah umum karena semua bisnis atau industri dapat menerapkannya tanpa memandang apakah perusahaan tersebut perusahaan produsen barang, jasa atau perusahaan non-laba.

Strategi pengaturan-biaya
Tujuan perusahaan dalam menerapkan strategi pengaturan-biaya adalah untuk melebihi para pesaingnya dengan melakukan apapun untuk menghasilkan barang atau jasa dengan biaya yang lebih rendah daripada para pesaingnya. Terdapat dua keuntungan yang diperoleh dari strategi pengaturan-biaya ini. Yang pertama, biaya yang lebih rendah berarti pengatur biaya dapat mengenakan biaya yang lebih rendah daripada para pesaingnya dengan tingkat keuntungan yang sama. Jika dua perusahaan dalam industri mengenakan harga yang sama terhadap produk mereka, maka pengatur biaya masih mendapatkan laba yang lebih besar daripada pesaingnya karena biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk tersebut lebih rendah. Yang kedua, jika persaingan didalam industri meningkat dan perusahan ingin berkompetisi dalam harga, maka pengatur biaya akan lebih dapat bertahan dalam kompetisi daripada pesaingnya karena biaya yang dikeluarkan lebih rendah.

2.3 Pilihan strategi
Pengatur biaya memilih sebuah diferensiasi produk tingkat rendah. Diferensiasi adalah mahal; jika perusahaan menggunakan sumber-sumber untuk membuat produknya unik, sehingga harganya pun dapat naik. Tujuan pengatur biaya untuk sebuah tingkat diferensiasi tidak harus lebih rendah daripada diferensiator (sebuah perusahaan yang bersaing dengan menghabiskan banyak sumber-sumber pada pengembangan sebuah produk), tetapi dengan harga yang terjangkau. Pengatur biaya tidak mencoba untuk menjadi pengatur industri dalam diferensiasi; tetapi menunggu nasabah yang menginginkan sebuah ciri atau jasa sebelum menyediakannya. Seorang pengatur biaya tidak memperkenalkan suara stereo dalam perangkat televisi, contohnya; tetapi hanya menambahkan suara stereo hanya ketika jelas bahwa konsumen menginginkannya.

Keuntungan dan kerugian
Kerugian dari masing-masing strategi umum akan dibahas dipandang dari sudut model kekuatan lima Porter, yang telah dibahas dalam bab 3. Lima kekuatan adalah ancaman dari kompetitor lainnya, suplier yang kuat, pembeli yang kuat, produk pengganti dan peserta yang masuk. Pengatur biaya dilindungi dari pesaing industri oleh keuntungan biayanya. Biaya yang rendah juga berarti (1) tidak terpengaruh daripada para pesaingnya dengan meningkatkan biaya input jika terdapat suplier yang kuat dan (2) kurang terpengaruh oleh kejatuhan harga dalam biaya yang dikenakan untuk produknya jika terdapat pembeli yang kuat. Terlebih lagi, karena pengaturan biaya biasanya membutuhkan pangsa pasar yang besar, pengatur biaya membelinya dalam kuantitas yang relatif besar, meningkatkan kekuatan penawaran terhadap suplai. Jika produk pengganti mulai masuk kedalam pasar, kemudian pengatur biaya dapat mengurangi biayanya untuk berkompetisi dan mempertahankan pangsa pasarnya. Pada akhirnya, keuntungan biaya pengatur merupakan sebuah penghalang untuk masuk, karena perusahaan lain tidak mampu memasuki industri dan mencocokan biaya atau harga pengatur. Pengatur biaya secara relataif aman, oleh karena itu, sepanjang dapat memelihara keuntungan biaya dan sepanjang harga merupakan kunci untuk sebuah jumlah pembeli yang signifikan.

Strategi diferensiasi
Tujuan dari strategi diferensiasi adalah untuk mencapai sebuah keuntungan kompetitif dengan menciptakan sebuah produk (barang atau jasa) yang dirasakan oleh konsumen unik dalam beberapa hal. Kemampuan diferensiasi perusahaan untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang tidak dapat dilakukan para pesaingnya berarti perusahaan tersebut dapat mengenakan harga yang lebih tinggi. Kemampuan untuk meningkatkan pendapatan dengan mengenakan harga yang tinggi (daripada dengan menurunkan harga seperti pada strategi pengaturan-biaya) memungkinkan diferensiator untuk melebihi para pesaingnya dan mendapatkan laba diatas rata-rata. Harga yang mahal biasanya diatas harga yang biasanya dikenakan oleh pengatur biaya, dan nasabah rela membayarnya karena mereka percaya bahwa kualitas produk diferensiasi lebihh bermutu. Akibatnya, produk tersebut akan dikenakan harga berdasarkan pada kemampuan pasar.
EFISIENSI DAN PRODUKSI: EFEK PEMBELAJARAN
Efek pembelajaran merupakan anggaran penyimpanan yang berasal dari pembelajaran sambil mempraktekannya. Laboratorium, sebagai contoh, mempelajari dengan cara pengulangan tentang bagaimana cara terbaik dari hasil tugas yang dilakukan. Dengan kata lain, produktivitas laboratorium semakin meningkat dari waktu ke waktu, dan unit anggaran menjadi individu. Dan pembelajaran semakin efisien dalam melakukan tugasnya. Kepentingan yang seimbang, dalam fasilitas produksi yang baru, manajemen terus berusaha melakukan yang terbaik dalam setiap operasinya. Anggaran produksi yang demikian menolak hasil peningkatan produktivitas laboratorium dan manajemen yang efisien.
Efek pembelajaran menjadi lebih signifikan ketika tugas yang rumit secara teknologi yang diulang, karena hal itu lebih dari sekedar belajar. Efek pembelajaran yang demikian menjadi lebih signifikan dalam sebuah proses pemasangan yang meliputi seribu tahap yang rumit daripada proses pemasangan dengan seratus tahap yang mudah. Walaupun efek pembelajaran secara normal tergabung dalam proses produksi, ada beberapa alasan untuk meyakinkan bahwa pembelajaran tersebut merupakan suatu hal yang penting dalam berbagai layanan industry.

EFISIENSI DAN PRODUKSI: KURVA PENGALAMAN
Kurva pengalaman lebih memacu pada penurunan anggaran secara sistematis yang telah dilakukan selama usia pakai sebuah produk. Berdasarkan konsep kurva pengalaman, anggaran unit produksi untuk sebuah produk di tolak oleh beberapa hal. Hasil dari proses ini merupakan antara anggaran unit produksi dan jumlah anggaran yang sama.
Skala ekonomi dan efek pembelajaran bergantung kepada fenomena kurva pengalaman.

Produksi dan Efisiensi : Penyesuaian Produksi dan Kebiasaan Masyarakat

Dasar konsep skala ekonomi adalah sebuah ide yang terbaik untuk mencapai kesuksesan yang efisien, dengan demikian akan mengurangi anggaran yang ada, tentunya dengan standar produksi. Perdagangan yang harus dipenuhi dalam ide ini adalah antara anggaran dan produksi. Berdasarkan pada logika itu, cara yang terbaik untuk meningkatkan efisiensi dan mengendalikan anggaran adalah dengan membatasi dan membakukan produk dalam jumlah yang besar.
Teknologi produksi yang fleksibel dan kompleksitas merupakan hal penting. Kemajuan utama dalam strategi perkembangan produksi yang fleksibel telah melangkah satu tahap dengan rancangan produk untuk memproduksinya. Hal ini berarti sebuah perusahaan bisa meningkatkan seluruh komponen tanpa harus merancang ulang segala produk. Contohnya pedal sepeda, tersedia sekitar 200 model yang berbeda di seluruh dunia, tetapi semua sekrupnya dimasukan ke lubang yang sama ukurannya. Dengan cara yang sama, Sony mengeluarkan 160 versi produk Walkman dengan komponen yang berbeda, tetapi bisa dipasang dengan satu kaset yang sama juga.
Selain mengembangkan anggaran yang efisien dan sedikit, teknologi yang fleksibel juga memungkinkan perusahaan untuk sebuah produk yang unik sesuai dengan kebutuhannya.

Pemasaran dan Efisiensi
Strategi pemasaran yang diadopsi oleh sebuah perusahaan bisa memiliki dampak utama pada nilai keefisienan dan struktur anggaran atas sebuah perusahaan. Strategi pemasaran mengacu kepada pendekatan penetapan harga oleh perusahaan, promosi, desain dan distribusi produk. Satu aspek yang penting adalah hubungan antara tingkat konsumen dan kesatuan anggaran.
Persentase tingkat konsumen pada sebuah perusahaan kian meningkat tiap tahunnya. Perolehan jumlah konsumen tersebut dikarenakan adanya periklanan, promosi, dan minat, dan ada juga hubungan antara tingkat konsumen dan anggaran. Lama bertahannya sebuah perusahaan bergantung pada konsumen.
Keuntungan ekonomi lainnya dalam konsumen setia adalah periklanan yang tidak membutuhkan biaya untuk perusahaan tersebut. Para konsumen yang setia biasanya akan berbicara satu sama lainya dalam mempromosikan produk perusahaan itu. Jadi perusahaan tidak perlu memasang iklan lagi ketika merek produknya jadi semakin terkenal oleh para konsumen—hal ini merupakan hal terpenting karena bisa menghemat anggaran.

Materi Kepemimpinan, hanya Inventaris dan Efisiensi
Kontribusi materi kepemimpinan bisa mendorong nilai efisiensi perusahaan yang berkaitan dengan kontribusi dan pemasaran. Hal penting untuk mengurangi anggaran yaitu melalui materi kepemimpinan yang sangat besar.

Penelitian dan pengembangan strategi dan efisiensi
Peran pimpinan penelitian dan pengembangan dalam membantu sebuah perusahaan agar mencapai hasil yang berlipat ganda. Pertama, fungsi penelitian dan pengembangan bisa meningkatkan nilai efisiensi dengan merancang produk-produk yang mudah untuk diproduksi. Penurunan sejumlah barang yang membuat sebuah produk bisa berkurang drastis.
Kedua, fungsi penelitian dan pengembangan bisa meningkatkan nilai efisiensi dengan memelopori proses inovasi—yakni cara baru untuk meningkatkan nilai efisiensi.

Strategi dan Efisiensi Sumber Daya Manusia
Produktivitas karyawan merupakan satu kunci utama yang menentukan sebuah efisiensi perusahaan. Karyawan yang produktif, akan membuat anggaran jadi lebih rendah. Terdapat tiga pilihan; 1. Pelatihan Karyawan; 2. Mengorganisir ruang kerja menjadi sebuah tim; 3. Menyamakan Penampilan.

Sistem Informasi, internet dan efisiensi
Dengan berkembangnya komputer secara pesat, pertumbuhan pun tak terhindarkan, terutama Internet dan kerja sama ( jaringan komputer yang berstandarkan Internet ), dan berkembangnya saluran komunikasi jarak jauh dengan teknologi yang super canggih.
Dell adalah sebuah perusahaan pertama yang melakukan penjualannya melalui internet dalam industri komputer, penjualannya secara online mencapai sekitar 40%. Dell juga melayani perbaikan secara online. Tiap minggunya sekitar 300 orang yang mengakses tips Dell.

Infrastruktur dan Efisiensi
Perangkat infrastruktur yang berisi nilai kreasi dan aktivitas. Hal ini mengikuti infrastruktur bisa membantu nilai efisiensi untuk mencapai tujuan. Infrastruktur bisa mengembangkan komitmen perusahan menjadi lebih luasdan hubungan kerja sama diantara beberapa fungsi dalam pencapaian target.
Manajemen kepemimpinan bisa membangun perusahaan. Tugas kepemimpinan akan menjelaskan sebuah visi yang mengenalkan betapa pentingnya semua fungsi-fungsi perusahaan untuk fokus dalam pencapaian targetnya. Semua itu tidak cukup hanya untuk membuktikan keefisienan pemasaran produksi.
Tugas kepemimpinan lainnya adalah memfasilitasi fungsi kerja sama yang dibutuhkan untuk menuju keberhasilan yang tinggi. Merancang produkyang sangat mudah untuk diproduksi, contohnya, membutuhkan produksi dan penelitian khusus untuk berkomunikasi; menggabungkan sistem jadwal produksi untuk komunikasi antara material manajemen dan produksi; merancang tim sendiri untuk kerja sama antara sumber daya manusia dan produksi.

Simpulan: mencapai keberhasilan yang efisiensi.
Pencapaian keberhasilan yang efisien bukanlah suatu hal yang bisa ditangani dalam satu fungsi pada fungsi utama, bagaimanapun; itu membutuhkan komitmen yang luas dan kemampuan untuk meyakinkan. Manajemen yang kuat, kepemimpinan dan infrastruktur, sangat berperan dalam prosesnya.

Mencapai Keberhasilan dengan kualitas tinggi
Dengan kualitas yang tinggi, bisa memberikan dua keuntungan bagi sebuah perusahaan; (1). Reputasi untuk kualitas memberikan jaminan dan patokan harga tertentu untuk sebuah produk. (2). Pembuangan produk yang rusak bisa meningkatkan nilai efisiensi dan anggaran yang rendah. Pendekatan utama adalah Manajemen Kualitas Total ( Total Quality Management ).

Manajemen Kualitas Total
Sejumlah konsultan di Amerika, termasuk Deming, Juran dan Feigenbaum, pertama kali mengembangkan konsep Manajemen Kualitas Total ( Total Quality Management ). Pada dasarnya, parea konsultan itu menang untuk mengubah Amerika.
Di lain pihak, Jepang merangkul para konsultan dengan antusias. Seperti halnya yang telah dijelaskn oleh Deming, sebuah filosofi TQM ada lima tahap rngakain kreasi;
1. Meningkatkan kualitas dengan maksud untuk meningkatkan harga atau anggaran sebagai hasil atau kurangnya pengolahan lagi, sedikit kesalahan, tidak adanya keterlambatan, dan lebih disiplin dalam waktu dan tenaga.
2. Sebagai hasilnya, meningkatkan produktivitas.
3. Kualitas yang baik akan membawa ke harga pemasaran yang tinggi dan perusahaan bisa menaikkan harga.
4. Peningkatan keuntungan perusahaan dan tetap menjaga perusahaan untuk kerja sama atau bisnis.
5. Dengan demikian perusahaan menciptakan banyak pekerjaan.


BAB III
Membangun Persaingan Keuntungan
Melalui Tingkat Strategi Fungsional Dalam Pendidikan

3.1. Apakah Pendididikan yang Bermutu itu Mahal?
Dalam anekdot di masyarakat ada beberapa kalimah yang berkaitan dengan mutu yaitu ”wala mutu wala yahya, tidak ada mutu kalau tidak ada biaya” . Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan merupakan hak asasi setiap warga negara Indonesia dan untuk itu setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial, ras, etnis, agama, dan gender. Pemerataan akses dan peningkatan mutu pendidikan akan membuat warga negara Indonesia memiliki kecakapan hidup (life skills) sehingga mendorong tegaknya pembangunan manusia seutuhnya serta masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila.
3.1.2 Pilar-Pilar Strategis

Pilar-pilar strategis dari landasan filosofis pendidikan nasional mengacu pada strategi pembangunan pendidikan nasional sebagaimana ditetapkan dalam penjelasan umum UU Sisdiknas, yaitu sebagai berikut:

3.1.2.1 Pendidikan Agama serta Akhlak Mulia

Pendidikan agama merupakan pilar utama dalam pembentukan akhlak mulia, budi pekerti luhur, dan kepribadian, karakter, atau watak yang unggul. UU Sisdiknas menetapkan pendidikan agama merupakan hak setiap peserta didik dan harus diajarkan oleh pendidik yang seagama. Pendidikan agama dan keagamaan yang berkualitas dilaksanakan dengan memenuhi 8 standar dalam Standar Nasional Pendidikan.

3.1.2.2 Pengembangan dan Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi

Pengembangan dan pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pendidikan dengan menerapkan teori konstruksi kognitif dan sosial, serta pendekatan kontekstual dalam proses pembelajaran. Konsep dasar KBK adalah kegiatan pembelajaran merupakan aktivitas produksi kompetensi sesuai dengan standar kompetensi dalam SNP yang harus dipenuhi oleh peserta didik dengan bantuan sumber belajar yaitu guru, multi media, dan sarana belajar lainnya. Untuk memenuhi tuntutan perbedaan potensi peserta didik dan ketersediaan sumber daya di masyarakat, kurikulum dikembangkan secara beragam (berdiversifikasi).pembelajaran dengan sistem kredit semester, dalam kerangka otonomi yang diberikan melalui kebijakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Penyusunan KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah harus memenuhi Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Kompetensi Lulusan dalam Standar Nasional Pendidikan, dan berpedoman pada panduan penyusunan KTSP yang diterbitkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Dengan sistem KTSP, kurikulum disusun sendiri oleh satuan pendidikan, sehingga terjadi diversifikasi kurikulum antar satuan pendidikan, dan diharapkan terjadinya adu keunggulan kurikulum antar satuan pendidikan. KTSP memberikan ruang untuk pendidikan kreatif yang disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi oleh satuan pendidikan dan/atau pemerintah daerahnya.

3.1.2.3 Proses Pembelajaran yang Mendidik dan Dialogis

Proses pembelajaran yang mendidik dan dialogis mencakup pembelajaran berpusat pada peserta didik, pembelajaran kontekstual, dan pengembangan organisasi pembelajaran (learning organization). Pembelajaran berpusat pada peserta didik berarti bahwa peserta didik pelaku utama dalam kegiatan produksi kompetensi, sedangkan sumber belajar terutama pendidik lebih banyak berperan sebagai pembantu, fasilitator, dan motivator. Konsep pembelajaran kontekstual mengacu pada pemaknaan terhadap kondisi dan potensi peserta didik yang menitikberatkan pada pengembangan minat, bakat, dan kompetensi, serta potensi sumber daya di lingkungan masyarakat yang menjadi faktor penentu sarana, proses, dan tujuan pembelajaran. Konsep pengembangan organisasi pembelajaran (learning organization) berarti bahwa tugas utama satuan pendidikan adalah mengembangkan kemampuan untuk mengakuisisi, bersilang bagi, dan menciptakan pengetahuan baru. Fokus kegiatan utamanya adalah pada pengembangan kemampuan belajar untuk belajar (learn to learn).
Integrasi dari ketiga konsep pembelajaran tersebut menjadi ciri dari proses pembelajaran yang mendidik dan dialogis yang harus diterapkan oleh setiap satuan pendidikan.

3.1.2.4 Evaluasi, Akreditasi, dan Sertifikasi Pendidikan yang Memberdayakan

Proses evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi perlu dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan agar sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. Evaluasi dilakukan terhadap hasil belajar peserta didik dan kinerja satuan pendidikan; akreditasi dilakukan terhadap program dan/atau satuan pendidikan; dan sertifikasi dilakukan terhadap kompetensi pendidik, peserta didik dan/atau satuan pendidikan. Tujuan evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi adalah untuk mewujudkan proses pembelajaran yang memberdayakan peserta didik oleh satuan pendididkan. Evaluasi belajar bukan sebagai kegiatan mengecek hasil menghafal dan latihan mengerjakan soal-soal ujian (drilling). Akreditasi bukan sekadar memenuhi persyaratan kualifikasi pendidik dan sarana belajar. Sertifikasi pendidik bukan sekadar kegiatan untuk memberikan sertifikat yang digunakan untuk mengumpulkan syarat kredit komulatif akademik. Proses evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan satuan pendidikan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran yang memberdayakan peserta didik sebagai indikator layanan pendidikan yang bermutu, berkeadilan, dan bermartabat.

3.1.2.5 Peningkatan Profesionalitas Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Profesionalitas pendidik dan tenaga kependidikan dalam menyelenggarakan layanan pendidikan perlu ditingkatkan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. Sebagai suatu profesi, kualifikasi pendidik perlu ditingkatkan minimum berijazah sarjana (S-1/D-4) untuk guru, dan magister (S-2) atau doktor (S-3) untuk dosen. Tenaga kependidikan seperti kepala sekolah dan pengawas perlu mendapat pendidikan khusus dalam bidang manajemen pendidikan, di samping bidang studi yang diampunya sewaktu menjadi guru. Untuk menjaga agar profesi pendidik dan tenaga kependidikan menjadi kuat dan bermartabat, perlu disusun kebijakan penjaminan mutu pendidikan yang didukung dengan peningkatan kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan.

3.1.2.6 Penyediaan Sarana Belajar yang Mendidik

Penyediaan sarana pendidikan berdasarkan Standar Nasional Pendidikan merupakan persyaratan bagi terselengaranya layanan pendidikan yang mendidik sesuai dengan prinsip pembelajaran berpusat pada peserta didik, teori pembelajaran konstruktif, dan proses pembelajaran kontekstual.

Fullan (2001) mengatakan akan timbul perbedaan persepsi antara pembuat kebijakan dan pelaksana kebijakan untuk setiap pada sektor pendidikan.
Sedangkan Nolder (1990) dan Snyder dkk (1992) mengatakan bahwa kendala lain menyangkut kemungkinan beban mengajar yang bertambah, peran guru yang berubah sebagai fasilitator dan sistem pelaporan.

Jika kita merujuk pada paparan pilar strategis di atas dan teori yang dilaksanakan di Jepang dan bahwa Jepang merangkul para konsultan dengan antusias. Seperti halnya yang telah dijelaskan oleh Deming, sebuah filosofi TQM ada lima tahap rangakain kreasi;
1. Meningkatkan kualitas dengan maksud untuk meningkatkan harga atau anggaran sebagai hasil atau kurangnya pengolahan lagi, sedikit kesalahan, tidak adanya keterlambatan, dan lebih disiplin dalam waktu dan tenaga.
2. Sebagai hasilnya, meningkatkan produktivitas.
3. Kualitas yang baik akan membawa ke harga pemasaran yang tinggi dan perusahaan bisa menaikkan harga.
4. Peningkatan keuntungan perusahaan dan tetap menjaga perusahaan untuk kerja sama atau bisnis.
5. Dengan demikian perusahaan menciptakan banyak pekerjaan.
Menurut filosofi TQM di atas jika kita elaborasi pada dunia pendidikan menurut hemat saya secara singkat bahwa untuk mencapai membangun persaingan keuntungan diperlukan biaya yang tinggi (mahal) untuk mendorong tegaknya pembangunan manusia seutuhnya serta masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila.

3.2 Bagaimanakah Solusinya Pendidikan yang Bermutu dan Dapat Dinikmati Semua?

3.2.1 Visi, Misi dan Tujuan Pendidikan Nasional
Pembangunan Indonesia pada masa depan bersandar pada visi Indonesia jangka panjang, yaitu terwujudnya negara-bangsa (nation-state) Indonesia modern yang aman dan damai, adil dan demokratis, serta sejahtera dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kemerdekaan, dan persatuan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Pembangunan pendidikan nasional ke depan didasarkan pada paradigma membangun manusia Indonesia seutuhnya, yang berfungsi sebagai subyek, yang memiliki kapasitas untuk mengaktualisasikan potensi dan dimensi kemanusiaan secara optimal. Dimensi kemanusiaan itu mencakup tiga hal paling mendasar, yaitu (a) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan, ketakwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul, dan kompetensi estetis; (b) kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; dan (c) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan teknis, kecakapan praktis, dan kompetensi kinestetis. Fokus pembangunan pendidikan nasional ke depan diarahkan untuk meningkatkan mutu dan daya saing SDM Indonesia pada era perekonomian berbasis pengetahuan (knowledge based economy) dan pembangunan ekonomi kreatif.
Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik, yang memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer di atas dapat berkembang secara optimal. Dengan demikian, pendidikan seyogyanya menjadi wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi individu, sehingga cita-cita membangun manusia Indonesia seutuhnya dapat tercapai.
Selain itu, pembangunan pendidikan nasional juga diarahkan untuk membangun karakter dan wawasan kebangsaan bagi peserta didik, yang menjadi landasan penting bagi upaya memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam hal ini, pemerintah mempunyai kewajiban konstitusional untuk memberi pelayanan pendidikan yang dapat dijangkau oleh seluruh warga negara. Oleh karena itu, upaya peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan yang lebih berkualitas merupakan mandat yang harus dilakukan bangsa Indonesia sesuai dengan tujuan negara Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
UUD 1945 mengamanatkan mengenai pentingnya pendidikan bagi seluruh warga negara sebagaimana diatur dalam Pasal 28C Ayat (1) bahwa setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia, dan Pasal 31 Ayat (1) bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
Sesuai Ketentuan Umum Penjelasan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Departemen Pendidikan Nasional berkewajiban untuk mencapai Visi Pendidikan Nasional sebagai berikut:
Terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
Dalam rangka mewujudkan Visi Pendidikan Nasional dan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Misi Pendidikan Nasional adalah:

1) Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia;

2) Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar;

3) Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral;

4) Meningkatkan profesionalisme dan akuntabilitas lembaga pendidikan dan pengelolanya sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global; dan

5) Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan RI.

3.2.2 . Tujuan Pendidikan Nasional menurut Undang-Undang Sisdiknas adalah:

1) Meningkatkan iman, takwa, dan akhlak mulia;

2) Meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi;

3) Meningkatkan sensitivitas dan kemampuan ekspresi estetis;

4) Meningkatkan kualitas jasmani;

5) Meningkatkan pemerataan kesempatan belajar kepada semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan bagi semua warga negara secara adil, tidak diskriminatif, dan demokratis tanpa membedakan tempat tinggal, status sosial-ekonomi, jenis kelamin, agama, kelompok etnis, dan kelainan fisik, emosi, mental serta intelektual;

6) Menuntaskan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun secara efisien, bermutu, dan relevan sebagai landasan yang kokoh bagi pengembangan kualitas manusia Indonesia;

7) Menurunkan secara signifikan jumlah penduduk buta aksara;

8) Memperluas akses pendidikan nonformal bagi penduduk laki-laki ataupun perempuan yang belum sekolah, tidak pernah sekolah, buta aksara, putus sekolah dalam dan antar jenjang serta penduduk lainnya yang ingin meningkatkan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan;

9) Meningkatkan daya saing bangsa dengan menghasilkan lulusan yang mandiri, bermutu, terampil, ahli dan profesional, mampu belajar sepanjang hayat, serta memiliki kecakapan hidup yang dapat membantu dirinya dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahan;

10) Meningkatkan kualitas pendidikan dengan tersedianya standar pendidikan nasional dan standar pelayanan minimal (SPM), serta meningkatkan kualifikasi minimum dan sertifikasi bagi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan lainnya;

11) Meningkatkan relevansi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan melalui peningkatan hasil penelitian, serta pengembangan dan penciptaan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh perguruan tinggi serta penyebarluasan dan penerapannya pada masyarakat;

12) Menata sistem pengaturan dan pengelolaan pendidikan yang semakin efisien, produktif, dan demokratis dalam suatu tata kelola yang baik dan akuntabel;

13) Meningkatnya efisiensi dan efektifitas manajemen pelayanan pendidikan melalui peningkatan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah, peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan, serta efektivitas pelaksanaan otonomi dan desentralisasi pendidikan termasuk otonomi keilmuan

BAB IV
Penutup

Strategi tingkat bisnis mengacu apda cara dimana manajer strategi merencanakan tindakan untuk menggunakan sebuah sumber-sumber perusahaan dan kompetensi yang berbeda untuk mendapatkan sebuah keuntungan kompetitif terhadap para pesaingnya dalam sebuah pasar atau industri. Inti dalam mengembangkan sebuah strategi tingkat-bisnis umum adalah pilihan yang berkaitan dengan diferensiasi produk, segmentasi pasar dan kompetensi khusus. Kombinasi dari ketiga pilihan ini berdampak dalam bentuk spesifik dari strategi tingkat-bisnis yang diterapkan sebuah perusahaan. Tiga strategi kompetitif umum adalah pengaturan biaya, diferensiasi dan fokus. Masing-masing memiliki keuntungan dan kelemahan. Sebuah perusahaan harus secara konstan mengatur strateginya; sebaliknya, akan beresiko jika terhenti ditengah-tengah. Secara meningkat, perkembangan dalam teknologi manufaktur memungkinkan perusahaan untuk menerapkan baik strategi pengaturan biaya maupun strategi diferensiasi dan maka dapat memperoleh keuntungan ekonomi dari kedua strategi tersebut secara bersamaan. Perkembangan teknik juga memungkinkan perusahaan kecil untuk berkompetisi dengan perusahaan besar dalam pijakan yang setara dalam segmen pasar tertentu dan maka meningkatkan jumlah perusahaan yang menerapkan sebuah strategi fokus. Perusahaan dapat juga mengadopsi dua bentuk strategi fokus: sebuah strategi biaya rendah yang terfokus dan sebuah strategi diferensiasi yang terfokus. Kebanyakan industri terdiri dari kelompok-kelompok strategis, dimana kelompok perusahaan menerapkan strategi tingkat bisnis yang sama. Anggota dari sebuah kelompok strategis merupakan sebuah pesaing perusahaan. Berdasarkan pada kelompok strategis yang berbeda dicirikan oleh kesempatan dan ancaman yang berbeda, yang bermanfaat bagi sebuah perusahaanuntuk merubah kelompok strategi. Kemampuan dalam melakukannya adalah sebuah fungsi dalam tingkat batasan mobilitas. Pilihan kedua yang dihadapi sebuah perusahaan adalah sebuah strategi investasi untuk mendukung strategi yang kompetitif. Pilihan pada strategi investasi bergantung pada dua faktor utama: (1) kekuatan dari posisi kompetitif sebuah perusahaan dalam industri dan (2) tahap siklus kehidupan dalam industri dimana perusahan tersebut beroperasi. Tipe-tipe utama dalam strategi investasi adalah pembentukan pangsa pasar, pertumbuhan, perluasan pangsa pasar, menjaga-dan-memelihara, laba, konsentrasi pasar, outcome, perubahan haluan dan strategi penghapusan.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: