Oleh: kakangyogaswara | 2 Mei 2009

Celempungan

Celempungan Purwakarta

DISUSUN OLEH:
A. YOGASWARA

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Identifikasi Masalah

BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN PURWAKARTA
2.1 Letak Geografis
2.2 Wilayah Administratif
2.3 Budaya Masyarakat

BAB III SENI CELEMPUNGAN
3.1 Latar Belakng Seni Celempungan Purwakarta
3.2 Proses Perkembangan Seni Celempungan Purwakarta

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sampai dengan proses penulisan makalah ini berlangsung, tulisan tentang Celempungan Purwakarta yang komprehensif dan menyeluruh, belum ada. Beberapa tulisan terdahulu tentang Celempungan Purwakarta, hanya menguraikan penggalan-penggalan pada bagian tertentu.
Secara umum tulisan tentang celempungan Purwakarta memiliki fungsi informatif, edukatif bahkan fungsi praktis-pragmatis. Dalam fungsi informatif, tentang seni celempungan purwakarta antara lain penting artinya untuk memahami jati diri, baik bagi pemerintah daerah maupun bagi masyarakat asli Purwakarta. Dalam fungsi edukatif, pemahaman akan permasalahan dalam seni celempungan Purwakarta penting artinya baik sebagai bahan pelajaran dalam pendidikan formal maupun sebgai bahan pelajaran bagi warga masyarakat dalam menghadapi kehidupan masa kini, karena masa kini adalah kesinambungan dari masa lampau. Dalam fungsi praktis-pragmatis, akumulasi pengalaman-pengalaman penting dalam tulisan Seni Celempungan Purwakarta untuk disimak dan dijadikan bahan acauan khususunya oleh para pemimpin di Kabupaten Purwakarta dalam membuat kebijakan..

1.2 Identifikasi Masalah

Dalam judul tulisan ini terkandung dua masalah pokok yang perlu terlebih dahulu diidentifikasi:
1. Bagaimanakah latar belakang kemunculan seni Celempungan Purwakarta?
2. Bagaimanakah proses perkembangan seni Celempungan Purwakarta ?

BAB II
GAMBARAN UMUM KABUPATEN PURWAKARTA

2.1 Letak Geografi
Kabupaten Purwakarta merupakan salahsatu Kabupaten di Propinsi Jawa Barat Daerah Purwakarta berada pada posisi geografis antara 6°25’-6°45’ Lintang Selatan dan 107°30’-107°40’ Bujur Timur. Dari segi transportasi dan komunikasi,Letak geografi Purwakarta cukup strategis,karna dilalui oleh jalan raya negara/propinsi, jalan tol,dan jalan kereta api. Jalan-jalan itu menghubungkan Purwakarta dengan Bandung, ibukota propisi Jawa Barat,(berjarak kurang-lebih 60 km),Purwakarta dengan Jakarta, ibukota Negara, (berjarak kurang-lebih 120 km), Purwakarta dengan kota Cirebon, pelabuhan Jawa Barat bagian timur (berjarak kurang-lebih160 km).

2.2 Wilayah Administratif
Dengan mengacu kepada Undang-undang N0 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah dan peraturan Daerah Kabupaten Purwakarta No. 22 tahun 2001, pembagian wilayah administrative Kabupaten Purwakarta tahun 2002 adalah sebagai berikut:
1. Kecamatan Purwakarta
2. Kecamatan Jatiluhur
3. Kecamatan Campaka
4. Kecamatan Plered
5. Kecamatan Darangdan
6. Kecamatan Wanayasa
7. Kecamatan Pasawahan
8. Kecamatan Tegalwaru
9. Kecamatan Bojong
10. Kecamatan Maniis
11. Kecamatan Sukatani
12. Kecamatan Sukasari
13. Kecamatan Kiarapedes
14. Kecamatan Pondoksalam
15. Kecamatan Babakan Cikao
16. Kecamatan Cibatu
17. Kecamatan Bungursari

2.3 Budaya Masyarakat
Seperti pada umumnya masyarakat yang berdomisili di bagian tengan Jawa barat, pola kehidupan masyarakat Kabupaten Purwakarta didominasi oleh budaya Sunda. Sejalan dengan perkembangan zaman yang ditandai oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, masyarakat Purwakarta banyak dipengaruhi oleh budaya asing. Namun demikian, budaya masyarakat pada dasarnya tetap bernuansa budaya Sunda dan budaya agama terutama budaya Islam.

BAB III
SENI CELEMPUNGAN

3.1 Latar Belakang Seni Celempungan Purwakarta
Seni Celempungan merupakan salahsatu peninggalan/warisan budaya nenek moyang Sunda di daerah Purwakarta. Kesenian ini berhubungan dengan latar belakang mata pencaharian orang Sunda jaman dahulu di daerah Purwakarta yaitu berladang (Ngahuma).
Asal-muasal istilah seni Celempungan Berasal dari kata Celempung yang berarti alat musik atau waditra yang terbuat dari seruas bambu yang memakai 2 tali hinis yang merupakan senarnya, pada bagian tengahnya diberi lubang yang merupakan lubang suara, batang bambu yang diberikan lubang itu merupakan resonatornya. Alat musik atau waditra ini apabila dipukul akan mengeluarkan suara yang mirip seperti suara kendang.

3.2 Proses Perkembangan Seni Celempungan Purwakarta
Dalam perkembangannya bahan yang dipakai untuk membuat celempungan ini terbuat dari sepotong kayu kering yang berlubang seperti ruas bambu, dalam bahasa Sunda disebut Parungpung. Pada dawainya memakai kawat atau senar dan bagian tengahnya diberi lubang yang berfungsi sebagai Resonator.
Salah seorang tokoh yang merubah bentuk alat musik atau waditra celempungan ini adalah Warsih,Warsih yang berdomosili di Kampung Cijaura Desa Lebak Muncang Kabupaten Purwakarta,pada abad ke-19. Pada waktu itu Warsih mengkolaborasikan atau memadukan waditra celempungan ini dengan waditra lainnya seperti :
1. piul,
2. kecapi
3. keprok,
4. goong buyung.
Sehingga melahirkan sebuah bentuk orkestra kecil. Dalam proses pertunjukannya tidak berbeda dengan Seni Kliningan yang dibangun oleh Seni Sekar dan Seni Gending (bentuk pagelaran karawitan Sekar Gending). Bentuk pagelarang celempungan yang seperti orkestra kecil ini baru dikenal oleh masyarakat umum sekitar tahun 1950an,sedangkan tokoh yang besar jasanya dalam perkembangan seni celempungan ini adalah Abah Upan.
Pada umumnya seni Celempungan ini digelar (dipertontonkan) dalam acara hajatan (kenduri) dan upacara-upacara syukuran setelah panen padi, misalnya panen padi disawah atau panen padi di ladang, dan juga dalam acara hajatan sunatan (khitanan),kawinan,dan syukuran menyambut kedatangan seorang bayi ke alam dunia (lahiran).
Seni Celempungan ini menyebar di wilayah Kabupaten Purwakarta, seperti di Citalang (Kecamatan Purwakarta), di Legokhuni (Kecamatan Wanayasa), di Cibeber (Kecamatan Kiarapedes) dan nangéwér (Kecamatan Darangdan).
Dalam pagelaran celempungan diawali dengan persembahan lagu “Béndrong”(Ngabéndrong), karna pada awal pagelaran Celempungan disajikan lagu “Béndrong” yang dirangkaikan dengan ngarajah yaitu permohonan ijin kepada karuhun (nenek moyang) lagu yang biasa dinyanyikan yaitu “Kembang Gadung” dan “Kidung”. Setelah itu celempungan ini menyajikan beberapa lagu seperti :
1. Wadah Seupaheun
2. Oyong-oyong bangkong
3. Dermayonan
4. Kulu-kulu Barang
Dalam perkembangannya sekarang sering juga memainkan lagu-lagu yang lumrah dalam
Jaipongan seperti:
1. Serat Salira
2. Bulan Sapasi
3. Goyang Karawang
Dan juga para penonton sering ikut menari sepaerti halnya dalam seni bajidoran.
Pada saat ini sudah terlihat usaha masyarakat untuk mengembangkan seni celempungan, terlihat dari beberapa inovasi contohnya di desa Cibeber Kecamatan Kiarapedes, Seni Celempungan dipakai untuk mengiringi seni beladiri Pencak silat dan menambahakan alat musik atau waditra terompet (tarompét) seperti dalam kendang penca.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Seni Celempungan merupakn salah satu peninggalan leluhur, atau nenek moyang budaya Sunda yang ada di Kabupaten Purwakarta. Seni Celempunganm berasal dari kata celempung, yang merupakan alat musik atau waditra pukul yang suaranya menyerupai suara kendang.
Seni Celempungan Purwakarta perlu eksistensi dan dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Purwakarta, baik dalam fungsi informatif, edukatif bahkan fungsi praktis-pragmatis.
Atas dasar hal-hal tersebut, maka penulisan Seni Celempungan Purwakarta yang komprehensif, proporsional, berkesinambungan sangat diperlukan. Tulisan Seni Celempungan yang demikianlah merupakan warisan barharga bagi generasi yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Koswara, Dedi Spk. 2004. Purwa Basa 3.A. Geger Sunten: Bandung
Tim MGMPPurwakarta. 2006. Wiwaha BAsa Purwakarta IX A. Geger Sunten : Bandung
Yogaswara, A. 1999. Celempungan Purwakarta. (Makalah):Fakultas Sastra-UNPAD: Bandung


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: